The Look Back : The Butterfly Effect

Because all of the stars have faded away.
Just try not to worry you’ll see them someday.
Take what you need and be on your way.
And stop crying your heart out. Oasis – Stop Crying Your Heart Out.

Recently gue lagi suka banget sama lagu Oasis yang satu ini. Tiap kali gue ngerasa down atau gatau apa yang mau gue lakuin, pas denger lagu ini kaya something’s popping out! Dan entah kenapa..perasaan gue jadi tenang banget. Gila!
Lirik satu ini bener-bener ngadiksi deh.

Serius deh gue gak notice pas lagu ini ada di film The Butterfly Effect. Dan sekarang gue lagi ngebet banget nonton film itu lagi, karena waktu itu cuma nonton sekilas di Bioskop Trans TV. Hehehehe..
Ngomong-ngomong tentang lagunya, gue mau deskripsiin lagu ini sesuai dengan pandangan gue sendiri.

So, where does it start? gue mulai dari filmnya, film The Butterfly Effect (kalo gasalah taun 2004) sebenernya ceritanya simpel, dan butuh perhatian lebih pas nonton film ini. Sama kaya pas kita nonton Inception atau Shutter Island, kita “dipaksa” cerita buat fokus sama filmnya, jadi gak akan mungkin deh kalo kalian nonton film jenis ini sambil twitteran atau iseng-iseng facebook/bbman. Ashton Kutcher dan Amy Smart memperjelas jalan cerita film ini dengan…well-packed dan ciamik!

Evan adalah seorang bocah umur 7 tahun yang mengalami semacam gangguan pada ingatannya. Pas awal cerita penonton diperlihatkan Evan sedang berbaring dan diperiksa oleh dokter, disebelahnya ada ibu Evan juga. Keadaan semakin genting saat Evan tiba-tiba kejang karena pikirannya mengalihkan tubuhnya sendiri. Dokter menyarankan ibunya, cara terbaik untuk Evan adalah untuk mencoba membujuk dia menulis apa yang ia lihat setiap hari dengan menulis buku jurnal.

Catatan dan kenangan yang telah  ia lihat, dan ia catat akan “hidup” kembali ketika dia membacanya lagi suatu hari nanti. Film ini JELAS, alurnya maju mundur. Karena sisi sudut pandang Evan yang memiliki perspektif berbeda-beda. Kebanyakan dari film ini, memperlihatkan Evan dewasa berusaha keras mencari tahu dimana buku jurnalnya dulu. Setiap kali ia membaca apa kenangan yang ia tulis, ia seperti….”hidup” lagi dikenangan itu dan dapat merubahnya sesuai dengan perspektif yang ia inginkan. Hingga, pada akhirnya dampak yang ia buat sendiri itu, terjadi pada dirinya sekarang.

Film ini yang jelas bukan tipe-tipe Inception yang nuntut konsentrasi ekstra pas nonton. Sutradara Eric Bress dan J. Macye Gruber menyisipkan adegan “lengang” pada beberapa scene, seperti kisah cinta antara Evan dan Kayleigh yang rumit, perselisihan Evan-Tommy, dan persahabatan Evan-Lenny. jadi tidak perlu terlalu konsentrasi menontonnya. Inception boleh menang dalam film putar-otak, tapi The Butterfly Effect patut jadi one of your dvd list di rumah anda!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s