Hilman si Pengerek Bendera

Hilman berdiri di dekat tiang bendera untuk menyaksikan detik detik proklamasi upacara bendera dengan tema Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI yang ke-65 kali ini. Kali ini ia tampak berbeda, rambutnya kusut, bajunya lusuh, dan ternyata dia bermalas malasan untuk datang ke sekolah.

Bel masuk telah berdering, semua murid berbaris diaula besar sekolah dengan wajah yang sumringah, beberapa masih terlihat ngantuk dikarenakan mungkin acara apel kali ini terlalu pagi. Ya, apel 17 Agustus kali ini disekolah dimulai pada pukul 07.00 pagi.

“Di Istana Presiden aja mulainya jam 10 kok disini jam 7 sih!” gerutu Hilman diam-diam.

Acara pembukaan terlewati, sekarang waktunya yang dinanti-nanti Hilman. Hilman dengan seluruh tenaga dan memasang wajah yang sumringah, pura-pura tersenyum untuk mendapatkan perhatian kepala sekolah. Bisa dilihat para siswa yang tampak penasaran menunggu datangnya barisan Paskibra sekolah itu. Tapak tapak kaki yang menggaung diseluruh aula mulai mencuri perhatian seluruh karyawan sekolah. Pasukan tersebut mulai muncul satu demi satu dari balik gedung.

Disana-sini banyak lampu blitz yang menyilaukan mata, menangkap gambar ketika pasukan Paskibra datang. Dalam kesempatan kali ini, Hilman bertugas sebagai pengerek bendera. Jelas wajahnya merengut terus,  karena dia tidak sudi jika dirinya menjadi pengerek bendera, ia sebenarnya ingin menjadi pengebet bendera namun sudah dialihkan tugasnya oleh sahabatnya, Rio.

Rio dan Hilman memang hampir tidak ada perbedaan bisa dibilang, sama sama tinggi, jangkung, eksis, dan jadi idola baru kakak kelasnya karena mereka berdua masih kelas sepuluh. Banyak kakak kelas yang curi-curi pandang dan berjinjit setiap kali kaki para paskibra menghentakkan kaki. Hanya untuk melihat mereka berdua saja!

Hilman sudah tidak bisa merengut lagi sekarang karena ada Gina, pacarnya sekaligus si pembawa baki yang berbaris dua baris didepan Hilman. Namun perasaannya tak juga kunjung padam. Ia tetap bersikeras untuk menjadi pengebet, meskipun menurutnya pekerjaan pengerek juga sudah eksis kok.

Kaki-kaki para pasukan paskibra menggaung diseluruh aula. Dan Hilman berpikir bahwa mungkin paskibra sekolah ini adalah paskibra yang terbaik diseluruh seantero dunia ini jika digabungkan menjadi satu. Komandan upacara berteriak menyampaikan perintahnya keseluruh pasukan.

Namun tiba tiba Hilman kaget saat dua baris didepannya sudah menyebar dan membentuk barisan baru disamping kiri kanan Hilman. Ini waktunya tiga orang yang bertugas untuk menjalankan tugasnya. Hilman mengambil 7 langkah bersamaan dengan kedua orang disamping kanannya, dan inilah saatnya.
Kalau ditanya apakah Hilman gugup atau biasa saja, jangan ditanya. Karena Hilman sudah beberapa kali mengikuti Paskibra di kecamatan, dan dia sangat berharap bisa menjadi tim inti paskibraka untuk dikirim ke Istana Presiden tahun ini, sebagai pengebet tentunya. Kalaupun jadi pengerek, ia juga setengah hati.

Entah apa yang membuat Hilman ingin sekali untuk mendapatkan posisi pengebet, apa karena saat mengebet benderanya? atau alasan lain? Toh, pengebet dan pengerek juga berada di posisi yang sama bukan?

“BENDERA SIAAAP!” teriak Rio lantang.

“KEPADA. SANG SAKA MERAH PUTIH. HORMAAAAT! GRAK!”

Hilman pun dengan cepat menarik tali bendera itu dengan perlahan lahan, saat lagu Indonesia Raya mulai dimainkan. Obsesi yang selama ini dia pikir adalah hanya sebuah mimpi, ternyata benar. Menurutnya, dia sudah sangat cocok sekali menjadi tiga orang pengibar bendera didepan. Setidaknya, dia sudah mendapat tugas dalam pasukan tersebut. Hanya dia kurang puas dengan apa yang sudah ia raih.

“Ssst! Ssssst!” desis Rio saat Hilman menatap ke udara kosong.
“Man man!! Jangan bengong, Man!”
Tiba-tiba ia sadar bahwa musik sudah berhenti dan ternyata bendera masih setengah tiang!!!
Seluruh aula memasang wajah kecewa dan pandangan buruk terhadap Hilman, begitu pula Kepala Sekolah. Jangankan kepala sekolah, teman-temannya pun sangat kecewa. Beberapa dari sudut barisan peserta ada yang menahan tertawa. Dion, senior-nya Hilman meredam tawanya agar tak didengar oleh kepala sekolah.

Tanpa sadar, langsung saja Hilman menarik benderanya tidak lebih dari 4 detik! Dan bendera sudah langsung naik kepuncak. Kali ini Hilman berbalik badan dan kembali ke barisan dengan wajah yang benar benar merengut, tak pernah disadari sebelumnya hal ini akan terjadi padanya. Hilman merasa sangat malu dan kala itu ia tahu apa yang dilakukannya. Seluruh mata dan pikiran pasukan paskibra pagi itu tertuju pada kesalahan fatal si Hilman. Entah apa yang terjadi, ternyata Hilman daritadi  bengong.

Pesan yang dapat diambil : Kalau kita sudah memiliki kedudukan, bersikap merasa cukuplah dengan apa yang kita dapatkan dari usaha dan hasil jerih payah kita. Jikalau mau lebih, kita harus berusaha keras juga untuk mendapatkan pekerjaan tersebut. FOKUS pada apa yang kita kerjakan SEKARANG. TUNDA apa yang harus ditunda, ANDA lah yang menciptakan keajaiban tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s