Trial: An Ode for the One-Eyed Face

stanczyk_matejko
Lukisan “Stanczyk saat pesta dansa di pengadilan Ratu Bona yang baru kehilangan Smolensk” karya Jan Matejko yang diselesaikan pada tahun 1862.

Fourteen winged faces shoved into sun-
Less tombs, mouth wide open under the EXIT.
Each was called out with an eye to submit
And another to keep. One sojourned
Where the others had been. “What’ve you seen?”
Came a voice so profound. He fought the fear
To tilt but saw no face aground: “I’ve seen life.”
The voice paced forth and the thunders thrive.
It cast his eye and told him to refrain
Some remnants of memories he lay pride within.
Then, his dyed-white guise began to deign:
“How’d I squeeze back the sight that’s purloined?”
Thus a smile was thrown but not for good,
Clung to the the souls, longing to be spooked.
Grind! Grind! He reached the ground’s apex
Dazzled by the vast expanse before him
As if he just revealed a brave new world.
“I’m here,” he purred in the need of whim
To see life better at once and the next.

AUGUST, 2017.

Note: This poem was inspired by the day of my undergraduate thesis trial.

“Critical Eleven”: Gambaran ‘Gelap’ Pasangan Kelas Menengah Berkarir di Indonesia

teaser-CRITICAL-ELEVEN-e1493888792235
Adinia Wirasti dan Reza Rahadian sebagai Anya dan Ale (sumber: 21cineplex)

Di satu titik dalam masa-masa sekolahku, saat pemikiranku masih naif dan bahan bacaanku belum kaya, aku sempat berpikir bahwa aku takkan mau menikah. Gagasan pernikahan rasanya terlalu maju, jauh, dan mengerikan bagiku yang saat itu masih berpacaran (atau tepatnya pacar-pacaran). Berbagai pertanyaan dan kritik atas banyak hal terus kulancarkan agar menghindari komitmen: “Apa rasanya hidup berdua dengan seseorang yang kita yakini kita cintai selama bertahun-tahun?”

Hidup sama ibunda tercintaku saja di rumah kadang sudah membuatku jengah, entah karena berebut remote control TV atau tak bicara satu sama lain karena aku sedang malas diajak menemaninya ke rumah sepupu. Bagaimana kalau nanti aku pulang ke rumah sementara yang menyambutku malah bibi asisten rumah tangga karena istri sedang lembur? Bagaimana kalau punya anak kecil umur 7 tahun yang doyannya mengoyak-ngoyak karpet ruang tengah? Phew. Berat. Mengingat-ingat itu beberapa tahun silam membuatku jadi gelisah sendiri sekarang, ditambah saat mengetahui bahwa beberapa karib terdekatku juga berpikiran serupa.

Tahun 2013, sebuah artikel mengatakan bahwa di Amerika, institusi pernikahan sudah dianggap remeh, khususnya bagi kaum kelas menengah, yang menganggap dirinya mandiri secara karir dan finansial. Mereka berpikir bahwa pernikahan hanya membawa lebih banyak rugi dibandingkan untung. Lambat laun, pemikiran ini diterima sebagai sebuah stereotip yang berkembang sampai akhirnya voila! Survei Komunitas Amerika  tahun 2012 mengklaim bahwa 23% laki-laki di Amerika dan 17% wanita memutuskan untuk tidak menikah.

Tahun 2008, Corinne Maier meluncurkan buku berjudul No Kids: 40 Good Reasons Not to Have Children, di mana ia memaparkan sederetan alasan para pasangan tak seharusnya memiliki anak. 2 tahun kemudian, aku mendengar bahwa Indonesia sedang ramai tren keluarga tak beranak (childless family) atau pasangan tanpa anak (child-free couple). Pertanyaan yang muncul adalah: benarkah saat itu, dan mungkin saat ini, orang-orang kelas menengah memilih untuk menikah, memuaskan hasrat seksual, dan menjalani tetek-bengek rumah tangga tanpa kehadiran buah hati? Apakah dengan terus bertambahnya generasi Z, katakan, 10 tahun mendatang perkawinan menjadi sebuah institusi yang tak lebih sakral dibandingkan, misalnya, merayakan pergantian tahun?

Pekan lalu, aku diajak menonton film Critical Eleven, dan aku lega sekali. Bukan karena ekspektasiku yang tinggi terbayar lunas dengan akting mumpuni dari Reza Rahadian dan Adinia Wirasti, tapi karena film ini melemparku kembali ke masa-masa di mana aku masih berpandangan naif soal pernikahan. Ale dan Anya, dua sosok modern kelas menengah yang karirnya sudah kokoh, ditempatkan pada situasi yang rumit. Tak bisa dibantah, keduanya menjelma perwakilan para pasangan kelas menengah berkarir yang baru menikah dan, bisa dibilang, tengah meraba-raba langkah apa yang mesti diambil untuk mempertahankan keluarga kecilnya. Siapa yang sangka, gagasan kesuksesan lewat pekerjaan yang menyita tenaga-pikiran-waktu, dengan sekejap dipukul mundur saat cinta mempertemukan keduanya di perjalanan ke Sidney.

Meski tak ada indikasi waktu sudah berapa lama mereka menikah saat pindah ke New York, penonton bisa tau bahwa kehidupan rumah tangga mereka mungkin lebih indah dari kisah cinta Katie dan Hubbell di film The Way We Were. Dari awal film, tampak jelas sekali Anya adalah perempuan abad ke-20 yang pandai mengurus diri. Sisi “elite” dirinya tampak lebih jelas saat ia mengobrol dalam bahasa Inggris dengan sahabat-sahabatnya. Hal yang sama juga berlaku bagi Ale. Inilah yang kemudian ditonjolkan kuat-kuat di film ini: modernitas.

Beberapa film terakhir yang juga mengangkat kehidupan rumah tangga pasangan kelas menengah berkarir adalah “7/24” (MNC Pictures, dibintangi Dian Sastrowardoyo & Lukman Sardi). Namun demikian, konteks yang diberikan adalah mereka sudah memiliki anak dan peristiwa yang terjadi saat keduanya mencuri-curi waktu untuk tetap bekerja saat seharusnya beristirahat. Critical Eleven, di sisi lain, menawarkan lebih dari itu. Ia menjelajahi rangkaian-rangkaian emosi terpendam yang dialami Ale dan Anya, hingga pada akhirnya menggiring keduanya pada rahasia gelap yang tak bisa diucapkan melalui sebatas kata. Sebagai pasangan baru menikah dan menantikan kehadiran anak pertama, mereka merasa perlu menyiapkan segala sesuatu untuk menyambut kelahiran Aiden.

Namun, masalah muncul, yang juga menjadi titik keberangkatan cerita, saat Aiden gugur dalam kandungan. Adegan-adegan yang menampilkan kesedihan Ale dan Anya di tengah film ditampilkan melalui montase-montase panjang yang ditambah alunan violin yang menyesakkan dada. Tak sadar, sepasang air mata juga turun membasahi pipiku. Tapi, sekarang, aku menyadari, kesedihan yang dialami pasangan itu tidak bisa dilihat sebagai kesedihan semata, tetapi sebuah kegagalan besar.

Bagi mereka, gagal memiliki anak juga berarti gagal menapak satu langkah kecil dalam mind map kesuksesan yang telah mereka rancang. Terbiasa dengan kata-kata “berhasil”, pengakuan sosial yang tinggi, dan reputasi baik di tempat kerja, mereka justru menjadi ciut saat kegagalan menghampiri. Dengan kata lain, mereka mengalami krisis paruh baya yang mungkin juga dirasakan oleh pasangan kelas menengah berkarir lainnya di Indonesia, dan ini bukan kegagalan yang main-main. Dalam benak perempuan seperti Anya, ia pasti akan bertanya: apa jadinya jika keluarga Risjad tau masalah pribadi mereka?

Inilah titik yang paling ditakuti para pasangan baru menikah kelas menengah yang berkarir. Isu sesungguhnya yang diangkat dari cerita Critical Eleven adalah bukan fakta bahwa Anya mengalami keguguran. Tetapi pilihan-pilihan yang harus dibuat Anya untuk mendefinisikan dirinya antara “istri” dan “wanita karir”. Saat Anya jatuh ditabrak sepeda, ia menganggap semuanya baik-baik saja, tapi tidak bagi Ale. Saat Anya diajak pulang ke Jakarta, ia memutarbalikkan argumen Ale bahwa ia sedang “hamil” dan bukan “sakit”. Lalu, tiba puncaknya ketika adegan makan malam, Ale mengklaim bahwa kematian Aidan adalah sebab Anya, yang membuatnya berang dan pelit bicara.

Ini semua adalah pilihan sulit yang harus dihadapi Anya, tidak hanya sebagai seorang istri, tetapi juga sebagai perempuan karir. Hidupnya seperti berada di bawah kendali penuh suaminya, dan ia tak ingin berada dalam kekangan itu. Itulah mengapa bagiku, adegan Anya menenggelamkan diri ke kolam renang dan muncul ke permukaan sambil menangis, menjadi sangat metaforis dan penting dalam film ini.

Di akhir film, Ale dan Anya bersatu kembali dan memiliki anak bernama Ansel, yang dapat dilihat sebagai simbol harapan. Adegan penutup yang memperlihatkan kumpul-kumpul keluarga memang tampak klise untuk film drama romantis, tapi tidak bagi film ini. Ia tak hanya berhasil mengembalikan suasana hati penonton setelah dicekoki dengan materi yang “berat-berat”, tetapi juga memberikan peringatan halus bagi penonton untuk dibawa pulang atau dibuang ke tempat sampah, yaitu bahwa bagi sebagian orang, beradaptasi membutuhkan proses yang panjang dan kadang-kadang rumit.

Seperti kata Anya, beradaptasi butuh “menata perasaan-perasaan yang muncul dan tenggelam”, sampai akhirnya ia bisa menata keberadaannya sendiri di New York, atau di manapun para pasangan, yang sudah atau belum menikah, kelas menengah lain yang sedang membaca ini.[]

(Juga dipublikasikan di http://www.kompasiana.com/radipt/critical-eleven-gambaran-gelap-pasangan-kelas-menengah-berkarir-di-indonesia_591ba7b97fafbd520bbc1031)

Telanjang

Yoga by Eli Whitney
“Yoga” oleh Eli Whitney (deviantart)

Hidup dalam “dunia yang dilipat” memang menjadi tantangan yang berarti bagi kaum milenial. Mereka yang hidup di jaman serba cepat menuntut segala sesuatunya harus dibuat dan dibentuk untuk memenuhi hasrat mereka untuk dihibur. Apa yang terpampang di layar harus selalu disajikan menarik dan menggugah indera. Secara tak langsung, generasi Z dibuai dalam sebuah dunia baru yang penghuninya beranak pinak di dalam kepala mereka sendiri, dibuat bingung dalam bauran ilusi dan realita yang sepertinya juga sudah terlanjur malas berkenalan dengan satu sama lain. Tanpa sadar, mereka disetir untuk percaya pada gagasan yang menjunjung hasil daripada proses, yang mengabaikan perjalanan, kerikil yang terdapat di sana, terik panas yang mengganggu, dan hanya memuja-muja tujuan akhir.

Sampai pertengahan bulan April, aku memutuskan berhenti mengakses Instagram dan menghapusnya dari ponselku. Bukan karena tampilannya yang membosankan. Atau karena perasaan bahagia saat melihat kawan lama bekerja di perusahaan ternama. Atau karena rasa haru saat membaca cerita teman seangkatan di kampus yang ibunya baru saja nyawanya dicabut. Atau karena senyum-senyum sendiri saat melihat teman yang tak terlalu kenal berfoto bersama pacarnya yang perlente. Bukan juga karena lihat info lowongan pekerjaan atau sambilan menulis yang gajinya lebih dari cukup untuk ajak gebetan makan di Braga Culinary Night. Atau karena siaran langsungnya Pak Ridwan Kamil yang sempat-sempatnya sadar kamera saat rapat di dewan tinggi Bandung.

Bukan itu.

Teman-teman terdekatku sempat bertanya kenapa, tapi aku tak mau nyinyir dan banyak basa basi, jadi kubilang saja “capek”. Entah itu memang benar atau alasanku saja untuk menghindar dari lontaran pertanyaan lanjutan. Tapi yang jelas, untuk menjawab pertanyaan mereka, tak bisa kujawab dengan cepat. Pertanyaan itu bukanlah macam pertanyaan yang butuh tanggapan tiba-tiba dan spontan. Bagi sebagian mereka, mungkin pertanyaan itu seharusnya bisa dijawab dengan segera dan tak perlu banyak jawaban yang elaboratif atau sok filosofis. Mereka hanya mau mendengar jawaban singkat: “gara gara mantan”, “ga mau diuntit gebetan”, atau, yang agak kasihan, “followers gue kurang banyak.”

Tampaknya, bagi mereka, media sosial adalah poros hidupnya. Ia menjadi semacam orbit yang mengarungi galaksi kehidupan yang remeh-temeh, diperlakukan sebagai pasangan hidup ketika pasangan hidup di dunia nyata bahkan belum juga diketemukan. Ruang baca-dengar-lihat di dalam layar mereka menjadi bulan-bulanan yang mereka tertawakan sendiri, tangisi sendiri, dan mungkin jadi bahan meracap untuk diri sendiri. (Emang meracap untuk diri sendiri kali! Hehe). Sadar atau tidak, media sosial menjelma menjadi urat nadi yang bahkan melekat lebih erat dari tuhannya sendiri.

Aku lihat teman-temanku pasang foto di instagram. Cantik dan tampan semuanya. Dari kepsyen yang kadang bentuknya hanya stiker dan emoji, pinjam quote para ternama yang sudah meninggal, bikin-bikin kata mutiara sendiri pakai bahasa Inggris, sampai cerita pengalamannya sepanjang potongan novel yang ceritanya tempe. Itu juga persis yang aku lakukan saat awal-awal punya akun instagram: inginnya cari foto paling bona fide (dari wajah, sudut kamera, pencahayaan, warna, bahkan sampai porsi badan paling pas yang harus masuk bingkai kamera). Bahkan kalau bisa ajak teman yang punya kamera berlensa canggih untuk jalan-jalan bareng, yang tujuan akhirnya adalah dapat foto yang sempurna! Tubuhnya jelas, latarnya buram. Sambil senyum kandid atau pura-pura ngobrol dengan partner di dalam foto.

Ta-da!

Aku resmi jadi penghuni dunia digital.

Perlahan aku sadar: tempat ini bukan untukku. Yang namanya “media sosial” bagiku harusnya mencerminkan nilai-nilai dalam masyarakat yang perlu dijaga untuk menghormati dan mengasihi orang lain, serta menjadi inspirasi untuk memperbaiki diri sendiri. Pasang foto kegiatan sosial dan cerita panjang lebar soal betapa beruntungnya aku bisa ikut serta dalam kegiatan itu, memang menyenangkan. Tapi ketika melihat foto orang lain dengan kegiatan yang lebih bergengsi, nalar kotorku mulai bermain. Sesekali kuingatkan diri untuk menahan nafsu, tapi apa jadinya kalau semua yang kulihat adalah kesenangan “mewah” yang sebenarnya pura-pura?

Pada titik itu, aku disetir untuk menjadi orang yang iri, mudah kesal, dan bahkan enteng menghakimi. Aku disetir untuk jadi orang yang dibiasakan melakukan perbandingan dan mengabaikan penyamaan. Aku dilatih menjadi hakim yang ulung, yang berani menjatuhkan vonis tanpa pertimbangan matang. Jadi orang yang abai dengan perasaan orang lain dan hanya mau ingin dilihat dan dipuja-puja.

Dengan kata lain, aku menjadi orang lain yang bahkan dulu sempat kubenci sendiri.

Mengerikan, bukan?

Itulah alasan aku tak ingin berikan alasan panjang lebar padamu, kawan. Karena aku ragu kaupun akan mendengarnya. Maka biarkan aku mengoceh sendirian di sini. Aku sayang dengan semua teman-temanku yang “masih” berkutat dengan media sosial dan berharap pula sayang dengan pilihanku sendiri yang “sudah” meninggalkannya. Aku sedih melihat temanku yang berkata nyinyir di statusnya hanya untuk menjatuhkan atau mengejek temannya sendiri secara halus. Sempat dengan kata-kata yang lebih kasar dari nama situs telkomsel yang diretas baru-baru ini, atau bahkan dengan kalimat-kalimat halus yang menenangkan tapi membakar diam-diam. Aku sedih melihat mereka merasa “dibenarkan” dengan jumlah like, share, atau komentar yang mereka dapatkan, terlepas dari apa itu konten statusnya.

Aku sedih melihat orang yang marah di media sosial karena kritiknya terhadap sesuatu menjadi “benar” karena orang-orang lain juga ikutan marah. Aku sedih melihat mereka membenci sesuatu karena hal itu tidak sejalan dengan jalur pikir mereka. Aku makin sedih melihat teman-temanku sendiri merendahkan kawan lamanya yang tak lagi berhubungan dengannya, melabelinya dengan istilah-istilah alien yang menyakitkan, dan kadang menggunakan bahasa asing hanya untuk menyamarkan kemarahan atau mengangkat martabat sendiri.

Aku sedih karena mereka merasa benar, saat orang lain dalam orbit “sosial”nya juga membenarkan.

Sebagai penutup, seorang guru sempat berkata padaku: “menulis itu seperti menelanjangi diri.” Dan menulis di sana aku artikan tidak hanya secara harfiyah tetapi juga kiasan (memasang foto, menampilkan emoji, mengunggah video, dan semacamnya). Dan makanya menulis itu sulit, katanya lagi. Semakin banyak hal-hal yang dituangkan dalam kata-kata, semakin lucutlah pakaian yang sedang dikenakan. Semakin detil penggambaran yang dipampang, semakin tanggal benang-benang yang sudah rapi terajut. Semakin banyak hal-hal yang kita sampaikan, semakin terlihat pula sisi diri kita dan orang macam apa kita sebenarnya.

Kalau memang telanjang di “media sosial” lebih menyenangkan bagi mereka, maka izinkan aku telanjang di dunia nyataku sendiri. Izinkan aku bernapas di luar kepala, beranak-pinak di sana, dan mengajakmu melakukan hal yang sama.[]

Hasrat Tak Dikenali

Travis by SharonStellarLight
“Travis” oleh Sharon Stellar (deviantart)

Malam itu aku seharusnya tidur. Baju belel yang biasa kujadikan sarung untuk penepis dingin belum juga tersentuh. Cokelat panas yang asapnya sudah tak meruap mulai protes ingin segera masuk perut, tapi kubiarkan dulu. Karena ada yang lebih haus untuk protes, yang belum pernah kurasakan sejak wali kelas SD-ku mengatakan bahwa kelas akan study tour akhir pekan nanti. Sesuatu yang mengubah asap cokelat panasku dan melukisnya menjadi langit. Sesuatu yang mematikan nalar, meluruhkan alasan, dan menjatuhkan harga diriku sebagai makhluk yang sempurna di antara makhluk lainnya.

Aku benar-benar harus tidur, tapi rasa kantuk dan jengah terlanjur kalah telak dengan rasa penasaran. Bukannya aku ini tidak punya rasa malu, tapi aku ingin pembuktian. Pembuktian atas pandanganku yang sempit dan sok tau tentang ruang temu viral. Foto yang kupasang (dan dia pasang) bisa saja membuat darah berdesir dan tangan untuk menyentuh, tapi dunia begitu membosankan. Kalau hanya menikmati layar dan apa yang terpampang di muka. Maka, aku pergi ke balkon lantai 2 hanya untuk menikmati udara segar malam, tapi sebenarnya untuk membunuh rasa gugup yang tak mau pergi.

Tanpa sadar, kupegang pagar yang membatasi balkon dan udara kosong di atas halaman dengan kedua tangan. Kutegakkan bahu sambil memastikan tak ada tulang punggung yang melenceng dari jalurnya. Kuyakinkan tubuhku untuk berdiri tegap dan tungkai kaki lurus menghujam bumi yang, seperti kalian juga, mungkin sedang bingung apa yang akan kulakukan. Lalu pelan-pelan, kuturunkan tubuhku sampai kedua tangan terlipat dan bermuara pada siku. Sampai kuyakin otot sudah menegang, baru kunaikkan lagi. Setelah 10 menit, aku berkata tanpa membuka bibir: “Aku siap.”

Kami bertemu di persimpangan jalan, berjabat tangan dan mulai mencoba memasuki dunia satu sama lain, tanpa harus merasa seperti orang asing. Kalau ada siapapun yang berani membayar paling mahal jabatan tangan pertama itu, aku takkan memberinya kesempatan. Ia terlalu indah untuk digantikan dengan materi lainnya. Cukup wajahnya saja yang bisa melukis langit pribadiku. Maka, kutawarkan ia minum setibanya sampai di tempatku. Tapi ia tolak mentah-mentah. Saat itu aku tau, ia tak mau aku jadi budaknya. Meski saat ini aku sudah diikatnya kuat-kuat, sampai tak berdaya.

Pertanyaan pertama yang kulontarkan padanya saat di kamar adalah: “kenapa kau ikut-ikut main beginian?” Alasanku adalah bukan karena aku hendak mengumpulkan informasi dari orang-orang yang sempat kupandang sebelah mata. Bukan juga untuk menghakiminya. Tapi karena aku tak ingin merasa sendiri.

Ia pun menjawab:

“Sejak kecil, ibu adalah orang yang paling sering menemaniku. Aku tak pernah bertemu ayah. Tak pernah tau rupanya, perawakannya, karakteristiknya. Aku bahkan tak pernah liat fotonya. Ibu tak pernah memberikanku kesempatan, dan bodohnya, aku juga tak ingin meminta. Aku merasa sosok ibu sudah cukup. Meski terkadang aku agak kesal dibuatnya, memintaku melakukan berbagai hal berulang-ulang. Membangunkanku shalat subuh saat waktunya dan melakukannya lagi bahkan saat aku sudah terjaga. Tapi itu tak jadi masalah karena itulah tugasnya sebagai seorang ibu.”

Untuk pertama kalinya sejak entah berapa lama, aku menjadi iba pada seorang laki-laki. Tak pernah kutemui laki-laki yang menghargai perasaannya dan merayakannya sebagai sebuah bagian penting yang harus ia jalani. Ditambah lagi, ia tak malu mengutarakan ini semua. Kebanyakan teman lelakiku enggan membicarakan hal pribadi dan malah sibuk bicarakan hal lain. Mungkin hal pribadi dianggap menyedihkan dan mengumbar-umbarnya hanya akan membuat orang lain melihatnya sebagai orang cengeng. Aku tak benar-benar setuju dengan itu.

Melihatnya di foto dan di realita membuat kepalaku pening. “Menarik” mungkin tak cukup tepat menggambarkan personalianya, tapi kurasa tak perlu lah kucari lebih jauh karena aku menikmati kepeningan mendefinisikannya. Sebelum sempat sadar, kubiarkan tubuh ini jatuh dalam tubuhnya saat ia rentangkan kedua tangan menghadapku. Dan dalam 5 – 6 detik itu, dadaku penuh dengan rasa bahagia. Itu pertama kali aku dipeluk orang asing tapi merasa ditimang ibunda: aman saja.

Sekelebat, aku seperti meluncur dalam lorong-lorong panjang yang berisik namun menenangkan. Aku menjadi Alice yang terlempar ke tanah mimpi saat ia sadar dirinya menjelma jadi makhluk lain. Aku seperti bertemu kucing Ceshire yang menggemaskan namun penuh tipu, Mad Hatter yang bijak dan moralis, atau Red Queen yang gila tahta sekaligus oportunis.

Tapi aku jadi sadar. Sepulangnya ia dari tempatku, ia tak berkata banyak. Aku juga tak mau cepat-cepat. Biarlah hari-hari lain di depan jadi saksi tukar informasi antara aku dan dia. Biarlah malam itu jadi pertanda bahwa kami memang harus bertemu lagi. Bukan hanya antara laki-laki dan laki-laki. Tetapi juga antara satu manusia dengan manusia lain. Dan ketika lampu motornya pergi menjauh dari pandanganku, aku mulai membaurkan diri dengan duniaku sebelumnya, sambil berpikir: “Apa yang baru saja terjadi?”

Lalu, seperti Alice, setibanya di dunia nyata, aku jadi makin enggan menghakimi.