Memories of the Annual SAAED National Competition 2013

Posted: April 6, 2013 in Catatan Harian, Experiences, Indonesia, Kehidupan Kampus, Opinion, Pengalaman Ekstra-kampus, SASING
Tags: , , , , , , , , , , ,

Ini adalah kali pertamanya saya ikutan lomba speech. Dan saya baru tau kalo tiap tahun, UIN (Universitas Islam Negeri) Bandung rutin ngadain lomba-lomba yang berbau English: speech, debating, story telling, sampe newscasting. Panteslah nama acaranya Annual SAAED National Competition. Saya akan coba cerita sedikit pengalaman, perasaan, dan kesan-kesan selama saya ikut acara ini.

Peserta Speech dari Sastra Inggris ada lima orang: saya, Lukmanul Hakim, Ridwan Nurjaman, DIka Satya, dan Rien Herdiyanti. Saya, Lukman, dan Rien awalnya gatau mau naik apa ke Bandung, karena berangkatnya jam setengah 6 pagi-pagi buta, dan para supir angkot keliatannya masih sibuk terlempar dalam relung-relung mimpi. Ha ha ha. Jadinya kami harus nunggu sekitar beberapa menit cuma buat dapet angkot yang sekiranya udah berkeliaran di jalan. Ditambah kami bertiga gak sempet sarapan karena harus ngejer waktu biar si Lukman gak ketinggalan giliran maju.

Setelah sarapan dan cari-cari gedung tempat lomba-lomba tersebut dihelat, kami digiring masuk ke Competitors’ Waiting Room, lalu seorang muda beralmet UIN masuk dan membacakan beberapa peraturan masing-masing lomba. Lukman maju urutan ke-5, Ridwan ke-13, Dika ke-14, saya ke-15, dan Rien ke-17. Gak enaknya, kami gak bisa nonton penampilan yang udah maju (deliver speech-nya) hanya setelah kita juga udah maju. Jadi, saya harus nunggu kurang lebih selama 14 x 7 menit di dalam ruangan itu.

14 peserta udah dipanggil. Di waiting room, dari UNPAD, hanya tersisa saya, Rien, kak Eca, dan kak Patrice. Peserta ke-15 pun dipanggil: saya. Bismillah. Semoga outline yang udah dibuat seringkas mungkin dan dilipet-lipet sampe jadi kertas kecil bisa saya kuasai, dengan begitu, saya pun mutusin untuk gak bawa notes. Karena saat itu tiba-tiba keinget sama nasihat tutor debating saya, Pak Tom, yang bilang gini, “Himawan, kalo kamu ngomong di depan publik bawa kertas, itu artinya kamu ngomong pake otak. Public speaker yang baik itu ngomong gak cukup pake otak, tapi juga pake ini,” katanya sambil menunjuk dadanya. Beuh. Sadap.

Saya sigap pake almamater dan langsung memasuki ruangan itu. Awalnya masih speechless pas ngeliat ternyata orang-orang di dalem situ udah lumayan banyak. Tiga juri yang duduk di bagian paling depan penonton tersenyum. Saya gatau maksudnya apa. Yang bikin saya makin kaget, ternyata salah satu jurinya datang dari USA! That’s just…a unique opportunity to speak in front of the people whose language I’m about to speak in. Singkat cerita, saya coba utarakan materi yang sudah diberikan dan saya persiapkan sambil mempraktikkan teknik speech yang saya udah tau, gesture, dan kontak mata. Estimasi waktu yang diberikan 7 menit. Tapi, pas ditengah-tengah ngomong, rasanya ada beberapa poin yang belum saya utarakan. Tapi gimanapun, saya coba untuk bawain speech-nya as flawless as it will have to be. Abis itu, sebelum time-keeper ngangkat bendera kuning (artinya waktu tersisa tinggal 1 menit lagi) saya pun berhenti. Dan langsung keluar ruangan.

Ternyata, saya cuma deliver speech-nya gak lebih dari 5 menit. Yang artinya saya akan dikurangi 10 poin. Hm.

Tapi ya gimanapun, saya coba pasrah sejadi-jadinya. Bahwa apa yang udah saya omongin dan teknik-teknik penyampaiannya udah saya lakukan dengan semampu yang saya bisa. Akhirnya, setelah 19 peserta selesai menyampaikan speech-nya, para juri pun memberikan oral adjudicator. Ini kayak kritik-kritik tentang penampilan kami gitu. Masing-masing juri memberikan kritik dan saran yang sangat baik untuk evaluasi public speaking skill kami. Setelah adjudicating session, kami ber-19 disuruh tetap berada di ruangan, karena 10 menit ke depan akan langsung diumumkan siapa yang masuk 5 besar.

Dan alhamdulillah!

Saya masuk……………….8 terbaik! he he he.

5 besar yang terpilih kebanyakan dari Telkom dan cewek semua. Yah…cuma bisa ngomong alhamdulillah aja. Maksudnya, buat saya–yang baru pertama banget ikut lomba speech, ga kaya si Lukman yang udah pernah menang lomba pidato di SMA-nya dulu berkali-kali, atau kayak bang Ridwan yang keliatannya speech skill-nya udah mateng–dan diikutsertakan dalam salah satu lomba tahunan bergengsi di Bandung ini, udah merupakan sebuah pencapaian. Empat peserta speech lain dari UNPAD berhasil masuk 12, 13, 14, dan 17 besar! Alhamdulillah. He he.

Selesainya, kami pun beranjak ke lomba story telling. Kami bela-belain nunda waktu pulang ke Jatinangor cuma buat ngeliat penampilan kak Patrice. He he. Dia bakal tampil membawakan cerita tentang, kalo ga salah, The Daughter of Martha Tiahahu. Kami semua pun didudukkan dalam satu row, dan pasang mata untuk menyaksikan penampilan terakhir yang disumbangkan dari UNPAD ini.

Kami, khususnya saya, jujur, agak tercengang pas tau kalo kak Patrice bisa story-telling sebagus itu. Dari mimiknya, pelafalan kalimat per kalimatnya, mengalir dan gak kayak dibuat-buat. Feels just natural. Pertunjukkan 8 menit yang bener-bener menghibur! Ditambah pas detik-detik ending-nya, ketika si putri Marta Tiahahu-nya ngedenger suara peluru yang ditembakkan ke kepala bapaknya, dengan kreatifnya, kak Patrice menambah suasana haru itu dengan alunan musik piano. Itu bener-bener…triumphant! Sumpahlah.

“Dari semua penampilan yang ada, penampilan kamu yang cuma bisa bikin saya merinding!” kata salah satu jurinya. Yang kemudian diikuti oleh tepuk tangan para penonton. Kak Patrice tersenyum.

Akhirnya, sejauh ini, setelah debating competition belum dikasih kesempatan untuk menang, writing competition yang, alhamdulillah, berhasil menyisihkan Nadira ke babak lima besar, dan speech yang cuma bisa tersisih sampe 8 besar, saya langsung optimis kalo Kak Patrice bakal masuk top five! :)

***

Selepas makan siang dan shalat zuhur, saya dan Lukman harus bergegas kembali ke Jatinangor karena ada urusan penting yang harus kami dahulukan. Hari ini saya bener-bener dapet banyak banget pelajaran baru: tentang speech skill, public speaking advanced skill, dan…antisipasi berangkat ke tempat yang agak jauh lebih siang biar dapet angkot yang udah hilir mudik.

A competition.

Meskipun gak jadi “juara dari yang juara”, saya harus tetep optimis dan gak boleh down. Karena gimanapun, ini kompetisi. Ada yang menang, ada yang kalah. Relatiflah. Justru penampilan yang belum baik dan diperbaiki harusnya jadi bahan renungan, kalo semua itu, apapun bentuknya, emang gak ada yang sempurna.

Si juara itu bukan dia yang cuma selalu gigih, pantang menyerah, dan menampilkan yang terbaik, tetapi juga harus belajar gimana caranya untuk gak terus-terusan “mendongak” setiap kali udah menang. Harus tau gimana caranya untuk “melihat ke bawah”. Bahwa di atas langit masih ada langit.

Yang sempurna masih ada yang JAUH lebih sempurna. That is, jauhi sifat sombong, kawan-kawan. :) Semoga cerita singkat ini bisa menutup malam minggu yang redup ditambah gemericik hujan di Jatinangor.

Salam,

SASING UNPAD 2012.
We are merely looking forward to joining your next year competition! :)

Ucapan selamat saya kepada rekan-rekan Sastra Inggris 2012 yang pada tanggal 10 April lalu diumumkan sebagai pemenang, Nadira Dhaifira, pemenang lomba Writing Competition; Kak Patrice, pemenang lomba Story Telling, dan Nikko, pemenang lomba newscasting. Congrats!

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s